7 Langkah Menyiapkan Homeschooling Untuk Anak Berkebutuhan Khusus


Apa yang harus dilakukan orang tua menyiapkan homeschooling untuk ABK (anak berkebutuhan khusus)? Tentunya ada pertimbangan tersendiri sampai akhirnya orang tua memutuskan anak tidak diikutkan ke sekolah formal, baik sekolah negeri maupun swasta yang khusus anak-anak difabel.

Sejak adanya pandemi yang berlarut-larut membuat sekolah dan pemangku kebijakan maju mundur untuk mulai membuka sekolah tatap muka. Beberapa sekolah malah sudah mengedarkan pemberitahuan ke orang tua murid, apakah akan menyertakan putra-putrinya untuk PTM (pembelajaran tatap muka) atau tetap PJJ (pembelajaran jarak jauh).

Orang tua pun galau, karena memutuskan anak-anak ke sekolah yang belum tentu ketat menjalankan prokes tentunya risikonya bukan main-main. Seolah membiarkan anak akan terpapar virus Covid-19.

Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Ketika Bara mulai ikut pendidikan anak usia dini (PAUD) di sebuah learning centre di Bandung, usianya belum dua tahun. Kami memang mendaftarkan ke PAUD tersebut kebetulan pengelolanya ramah dan guru-gurunya (kami memanggilnya Mis) mau menerima kondisi Bara. Waktu itu Bara masih 1.5 tahun dan belum bisa berjalan.

Keterlambatan tumbuh kembangnya juga berdampak pada kemampuan berbahasa dan berbagai masalah kemampuan belajar lainnya.
Sampai akhirnya di usia 6 tahun, keluarga harus memutuskan apakah Bara akan lanjut ke Kindy B, setara dengan TK B atau mencari alternatif pendidikan lainnya.

Beberapa kali mendampingi Bara untuk sekolah online, saya menangkap bahwa kurikulum TK A kok sulit ya. Mungkin sudah dari DikNas-nya disusun kurikulum seperti itu.
Lembar kerja siswanya tugas-tugasnya tidak sederhana. Banyak logika dan nalar yang menurut saya terlalu rumit untuk anak dengan masalah tumbuh kembang seperti Bara.




Bara didiagnosa anak dengan sensory processing disorder, artinya ada proses penginderaan di tubuhnya yang tidak berjalan sebagaimana anak-anak lain. Selain masih harus mengikuti terapi motorik kasar, harusnya juga dilengkapi dengan terapi okupasi, karena motorik halusnya juga belum prima.

Sulitnya dalam sistem pendidikan di Indonesia, tidak ada sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan learning disability seperti Bara ini.
Pendidikan yang ada merupakan pendidikan luar biasa yang diperuntukkan bagi penyandang difable mulai tunanetra, tuna rungu, tuna daksa, tuna grahita, tuna laras, dan tuna ganda.
Tentunya amat sulit memilih sekolah yang pas bagi Bara dan kawan-kawan Bara yang mempunyai kasus sama yang tidak masuk dalam kriteria ketunaan.

Bisa saja mencari sekolah inklusi yang pas, yaitu sekolah-sekolah normal yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Setahu saya sekolah inklusi seperti ini, anak-anak spesial ini harus didampingi shadow teacher (guru pendamping) selama anak berada di sekolah.
Kurikulumnya ya pastinya kurikulum dari pemerintah lah ya.
Justru yang menjadi pertimbangan kami sekeluarga adalah, kurikulumnya ini yang terlalu sulit.
Takutnya sudah bayar guru pendamping mahal-mahal, Bara tetap kesulitan.

Maka kami memutuskan homeschooling untuk Bara saja dulu.

Homeschooling Untuk Anak Sensory Processing Disorder (SPD)

Sebelum lanjut ke pembahasan tentang homeschooling, perlu disimak dahulu apa, sih, sensory processing disorder tersebut?
Seperti kita ketahui, kita mempunyai tujuh penginderaan. Kok tujuh, bukannya lima ya.
Cek apa saja tujuh indera tersebut:

  • Penglihatan
  • Pendengaran
  • Pencecap
  • Peraba
  • Penciuman
  • Kekuatan otot (proprioseptif)
  • Vestibular (keseimbangan)

Semua indera tersebut harus terkoordinasi dengan baik. Setiap indera akan diteruskan oleh simpul-simpul syaraf melalui syaraf pusat lalu dilanjutkan lagi perintahnya ke indera yang lain.
Misalnya kita melihat, mendengar, lalu menceritakan ke orang lain apa yang kita lihat. Itu kan perlu koordinasi semua ujung-ujung simpul syaraf tersebut.

Mungkin rata-rata anak SPD mengalami keterlambatan bicara, seperti halnya Bara. Itu sebabnya Bara masih belum bisa menyanyi. Hal yang mungkin mudah saja bagi teman-teman se TK-nya. Walaupun Bara jagoan joged, kalau mendengar lagu-lagu, karena Bara memang tidak tuli.

Bila anak-anak lain berlarian, Bara masih limbung. Itu sebabnya masih harus banyak berlatih motorik kasar untuk menguatkan otot-ototnya yang memang lemah dari lahir (hypotonus) dan melatih keseimbangannya.

Hal-hal yang perlu disiapkan untuk membuat sekolah dari rumah bagi Bara adalah:

1 - Fasilitas Belajar



meja belajar yang cukup luas


Pertama menyiapkan ruangan belajar dan fasilitas belajar, berupa meja belajar dan kursi. Meja harus yang cukup besar, karena nantinya Bara akan duduk berhadapan dengan gurunya, dan menggunakan aneka media sesuai kebutuhan.
Siapkan dingklik/ jojodok/ kursi kecil untuk ganjal kaki, bila yang dipakai adalah kursi dewasa, supaya kaki anak tidak menggantung.
Bisa saja orang tua menyiapkan furniture sesuai ergonomi anak, sayangnya harganya tidak murah.
Seperti halnya ruangan belajar umumnya, ruangan harus cukup terang dan ventilasi baik.
Boleh disiapkan papan tulis/ white board yang digantung sesuai jangkauan tinggi anak.

2 - Kurikulum Khusus

Beruntungnya saya mempunyai adik, psikolog yang membuka rumah belajar untuk anak ABK di Jakarta. Jadi berdasarkan pantauan dan special case Bara, maka disiapkan kurikulum untuk per tiga bulan.
Jadi ada target-target per tiga bulan yang harus kami capai untuk perkembangan belajar Bara.

Bagi anak-anak lain yang mempunyai kasus berbeda dengan Bara, ada baiknya juga berkonsultasi ke pakarnya, supaya mendapatkan penanganan yang pas.

3 - Membuat Media Belajar



komunikasi melalui visual PECS

Sekarang berbagai informasi bisa dicari dari internet, tutorial pun banyak dishare dari banyak sumber. Tinggal kita saja rajin-rajin mencari berbagai bahan ajar yang diperlukan.

Misalnya, Bara sekarang ini kami coba berkomunikasi melalui visual (PECS), sehingga kami harus banyak-banyak membuat foto Bara dengan aneka kegiatan, icon, logo, dan banyak gambar lainnya.

Di toko buku pun banyak dijual berbagai bahan yang bisa dibuat sendiri sebagai bahan ajar, misalnya kertas warna-warni, kertas foto, kertas laminasi, karton aneka ketebalan, mika, plastik, flanel, busa, dan lain-lain. Tinggal kita saja kreatif membuat aneka media ajar tersebut.



mencocokkan gambar

4 - Mencari Guru Privat




berlatih bersama guru persiapan untuk homeschooling

Tidak mudah mencari guru privat memang. Bisa melalui sekolah TK, barangkali ada informasi guru yang bisa datang ke rumah. Pastikan anak ngeklik ke gurunya pada pertemuan pertama.
Anak biasanya mempunyai indera ke sekian, dia akan cocok dengan guru yang seperti apa.
Seperti halnya Bara, dia lebih cocok dengan guru yang keibuan, berbadan besar, dan cerewet. Dibandingkan dengan guru yang masih muda tipe Teteh-teteh…

5 - Melibatkan Orang Tua dan Keluarga

Semua anak adalah spesial, apalagi special needs child. Pastikan anak diterima dengan kondisinya yang dalam beberapa hal masih harus dilatih. Perlu kesabaran untuk menghadapi anak-anak yang komunikasinya belum lancar.
Perlu trik untuk mengalihkan perhatian, bila anak rewel karena serumah tidak ada yang faham apa yang diinginkan anak.

Banyak orang tua yang masih berpatokan anak harus pintar secara akademis, sehingga walaupun ABK, keukeuh disekolahkan ke sekolah biasa. Akhirnya begitu lulus sekolah, anak tetap tidak tahu apa-apa, karena pihak sekolah ya tetap "menaikkan" kelas karena ada rasa "engga enak" bila diputuskan tidak naik kelas. Padahal mungkin saja ABK ini mempunyai potensi di bidang lain, sehingga engga apa-apa juga tidak punya ijazah sekolah formal.

6 - Mencari Teman Belajar atau Komunitas

Kekhawatiran keluarga bila nanti di tahun ajaran baru Bara akan sekolah dari rumah adalah Bara tidak punya teman. Padahal ya, selama satu tahun ini, Bara sekolahnya tatap layar, bukan tatap muka.
Itu sebabnya mulai dari sekarang orang tua mencari berbagai komunitas yang bisa menjadi ajang sosialisasi bagi Bara. Walaupun tentu saja dengan protokol kesehatan ketat, karena masih dalam susana pandemi.

Saya malah berpikir, siapa tahu, kami yang membentuk komunitas tersebut. Pastinya di luar sana, banyak kawan Bara yang mempunyai masalah yang sama.

7 - Studi Banding

Berbeda dengan negara-negara maju, perhatian pada anak-anak special needs di Indonesia masih jauh dari harapan. Belum ada kesetaraan terhadap mereka. Walaupun di sekolah inklusi, kecenderungan perundungan pasti ada. Di tempat kerja pun setelah anak dewasa, lingkungan belum siap menghadapi individu berkebutuhan khusus.

Untungnya dengan adanya internet, berbagai ilmu dari negara maju bisa kita gali dan serap.
Orang tua harus mencari dan menyesuaikan sebanyak-banyaknya informasi untuk studi banding.

Kesimpulan

Banyak yang beranggapan bahwa homeschooling adalah memindahkan anak belajar tadinya di sekolah, lalu di rumah saja tapi dengan kurikulum yang sama dengan sekolah biasa. Lalu menganggap sekolah dari rumah bisa suka-suka mengatur jam belajar dan lebih murah, karena tidak harus membayar uang sekolah.

Saya masih mencari definisi yang tepat dengan homeschooling ini, mungkin sementara sih Bara sekolah dari rumah yang kurikulumnya dibuat sendiri.
Tentu saja, nanti akan ada jadwal tetap untuk Bara belajar, seperti halnya kalau berangkat ke sekolah, walaupun kali ini guru yang datang ke rumah.


Posting Komentar

19 Komentar

Dyah ummu AuRa mengatakan…
Homeschooling untuk anak-anak normal saja butuh persiapan yang benar-benar matang apalagi untuk anak berkebutuhan khusus. Butuh dukungan dari banyak pihak untuk menyukseskannya. Soalnya ku juga kemarin sempet mau HS ternyata gak sanggup. Semangat mbak, semoga Allah mudahkan.
diane mengatakan…
Homeschooling sekarang jadi pilihan banget karena pandemi ya.. Meski di rumah aja tetep butuh persiapan ya.. termasuk untuk anak berkebutuhan khusus biar tetep nyaman dan betah belajar..
Hani mengatakan…
Terima kasih Mbak. Ini juga diniatkan dan tekad bulat saja. Kasian anaknya juga sih kalau tetap di sekolah biasa.
Hani mengatakan…
Iya Mbak...
Harus rajin-rajin bikin materi ajar sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Terima kasih sudah mampir...
nurulrahma mengatakan…
Artikel ini memudahkan banget utk ortu, mbaa
baik yg anak berkebutuhan khusus, ataupun anak2 yg memang pengin Homeschooling.
Maklumlah, kalo mau sekolah umum/offline, juga cemas nih para ortu.
kalo mau HS, ortu kudu siap dgn hal2 detail ya.
thanks for sharing :D
Maria Soemitro mengatakan…
salah satu yang saya harapkan dari Nadiem Makarim, menteri pendidikan kita yang energik adalah memperbanyak sekolah inklusi

karena saling membutuhkan, antara tenaga guru dengan murid, tapi keengganan banyak sekolah menjadi penghambat
Moch. Ferry mengatakan…
Homescholling dibutuhkan di masyarakat untuk melayani anak berkebutuhan khusus atau anak istimewa.
Hani mengatakan…
Betul Ambu. Salah satu alasan, sekolah sudah penuh. Seperti yg dialami teman saya, pdhal udah bayar u anaknya sekolah di sekolah inklusi. Saat terakhir, dikabari, anaknya engga diterima krn kelas sudah penuh...
Mutia Ramadhani mengatakan…
Ngerasa ada sedikit terkait artikel bunda dengan kondisi Rashif saat ini. Pada dasarnya Rashif menjalani terapi sekaligus homeschooling sampai kelak usianya 4-5 tahun. Benar bun, kurikulumnya khusus. Beda anak, beda kurikulumnya, sebab disesuaikan dengan kemampuan awal anak yang bisa diketahui ketika di-assesment.

Bara udah mulai generalisasi ke lingkungan eksternal, khususnya anak-anak sebayanya bunda? Atau masih fokus di rumah saja dulu? Semoga Bara segera bisa verbal ya. Sebab anak-anak SPD ini bukannya tidak bisa bicara. Kelak kalo kognitifnya semakin membaik, dia akan verbal sendiri.
Lia Yuliani mengatakan…
Kurikulum untuk homeschooling pasti beda, apalagi untuk anak ABK. Memang ortu juga harus berperan lebih aktif membimbing anak belajar di rumah. Mendatangkan guru privat juga solusi yang baik, karena kadang engga semua ortu bisa jadi guru di rumah.
Fenni Bungsu mengatakan…
Belajar dengan Homescholling, terlebih lagi di masa pandemi ini menjadi salah satu jalan untuk terus meraih keilmuan. Peran penting orangtua juga sangat membantu prosesnya ya. Dukung selalu.
Dian mengatakan…
klo untuk ABK emang lebih nyaman buat homeschooling ya mbak
karena bisa membuat kurikulum sesuai kebutuhan anak ya
Wahid Priyono mengatakan…
Saya sebagai guru Biologi SMA juga sedikit kurang nyaman selama mengajar di masa pandemi, kesulitan saat mengajar daring pastinya ada, apalagi ini saya ngajar di kampung jaringan internet sulit. hehe..ya berharap tahun ajaran baru ini sudah tatap muka saja biar pelajaran langsung selsai hari itu juga, dan anak2 juga mudah dalam menanyakan pelajaran yng blm mereka pahami.

Btw, saya juga pernah punya pengalaman mengajar anak2 autis, dan berkebutuhan khusus di salah satu bimbel dan sekolah. Memang perlu perlakuan khusus, dan sabar juga dalam membimbing mereka. Semoga anak bunda sehat2 selalu ya...salam untuk Bara ya, semoga selalu sehat2 selalu aamiin.
Nanik Nara mengatakan…
Iya, masih banyak yang beranggapan kalau homeschooling = memindahkan sekolah ke rumah, ngundang guru dengan kurikulum =kurikulum sekolah. Padahal tidak seperti itu. Itu hanya salah satu tipe HS, masih ada tipe yang lain
Annie Nugraha mengatakan…
Perjuangan yang luar biasa Mbak. Butuh kesabaran dan perencanaan yang tidaklah mudah. Tapi saya selalu yakin, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus itu memang istimewa. Mereka ini orang-orang terpilih yang memiliki kesabaran dan ketabahan hati yang seluas samudra. Bara sudah berada di tangan yang tepat. Semoga dilancarkan dan dimudahkan homeschoolingnya ya Mbak.
Ratna Kirana mengatakan…
Ada banyak hal yang harus dipersiapkan ya ternyata, tapi anak jadi belajar dengan nyaman ya. Memang homeschooling itu berbeda dengan dengan sekolah konvensional, tapi gak mengurangi esensi belajar anak.
Diah Alsa mengatakan…
Sejak Pandemi, Ibu jadi guru di rumah, dan rasanya pengen jugalah buat Homeschooling juga di rumah karena kita bisa menyesuaikan sendiri ya materinya, apalagi yang berkebutuhan khusus ya.
Semangat terus ya Bara belajarnya.
Indah mengatakan…
Masyaa Allah... orang tua yang luar biasa. Sabar cerdik dan juga piawai dalam menghadapi anak BK. Sembangat Mama Bara dan Bara
nita juwithafina mengatakan…
Hai mba kita sama2 punya permasalahan dengan anak, mirip. Aku juga sampe skarang masi bingung cari metode nya. Aku selama ini minta bantuan ke terapis dan sekolahnya. Semangat ya mba