Mudahnya Disabilitas Mengasah Kreativitas Bersama IndiHome Internetnya Indonesia

Setiap keluarga pastinya mengharapkan lahirnya anak-anak yang sehat dan cerdas sebagai generasi penerus. Tetapi apa yang terjadi bila di kemudian hari terdeteksi bahwa anak yang tampak baik-baik saja, ternyata merupakan anak special needs atau anak berkebutuhan khusus.

Sikap penyangkalan merupakan langkah yang umum muncul pada keluarga dengan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Walaupun pada akhirnya ikhlas dikarunia putra atau putri penyandang disabilitas, tetap harus dilakukan langkah untuk mengatasi masalah, yang tentunya perlu dana, skill, dan waktu.

Pemerintah sendiri mempunyai UU 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang pada pasal 1 dijelaskan sebagai berikut:

“Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak”

Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan mahluk dengan potensinya, tinggal kita yang berdampingan dengan teman-teman difabel tersebut yang membantunya untuk menemukan potensi diri.

Mungkin teman-teman masih rancu dengan istilah difabel dan disabilitas. Perlu diketahui bahwa disabilitas adalah menggambarkan kondisi kelainan fisik atau mental seseorang, sedangkan difabel ditujukan bagi orang yang mengalami disabilitas.

Ada beberapa jenis disabilitas yang perlu kita pahami terlebih dahulu:

  • Gangguan penglihatan
  • Tuli atau sulit mendengar
  • Kondisi kesehatan mental
  • Disabilitas intelektual
  • Cedera otak sejak lahir
  • Gangguan spektrum autisme
  • Disabilitas fisik

Ke tujuh jenis disabilitas ini tentunya memerlukan fasilitas pendukung dan pengertian dari lingkungan sekitar agar mereka memperoleh akses yang sama dengan orang normal lainnya.


Mencari Pendidikan Yang Pas Untuk Anak-anak Difabel

Masalah besar bagi orang tua yang putra atau putrinya penyandang disabilitas adalah mencari pendidikan yang pas. Pemerintah memang menyiapkan sekolah bagi anak-anak yang memiliki ketunaan, yang kita kenal sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB). Antara lain SLB A untuk tuna netra, SLB B untuk tuna rungu, SLB C untuk tuna grahita, SLB D untuk tuna daksa, SLB E untuk tuna laras, dan SLB G untuk tuna ganda .

Sayangnya tidak semua kota mempunyai fasilitas SLB mulai dari A hingga G tadi, selain itu perkembangan ilmu parenting dan kesehatan tidak bisa mengklasifikasikan anak-anak berdasarkan ketunaan seperti yang disebutkan di atas.

Misal ada anak-anak yang sebetulnya tidak ada masalah tumbuh-kembang baik fisik maupun inteligensia, tetapi mempunyai masalah sosialisasi dan tidak bisa fokus. Tentu saja orang tua akan ragu dan bingung memilih sekolah yang pas untuk sang buah hati.

Kisah Ikhsan dan Rumah Belajar Tata

Ikhsan adalah seorang pemuda autistik yang mempunyai potensi melukis dengan media akrilik. Secara rutin Ikhsan berpameran, kadang ikut pameran yang diselenggarakan oleh komunitas Autism, Kementrian, atau pameran solo.

Melalui pameran-pameran tersebut Ikhsan menjual lukisannya. Gaya lukisannya khas gambar figur hewan, tumbuhan, bangunan, dan lain-lain.

Bakat melukis Ikhsan tersebut diketahui Ibundanya, Ibu Dyah Puspita, seorang psikolog, sejak putranya berusia 7 tahun. 

Waktu itu belum banyak ahli bahkan dokter anak dan psikolog yang paham tentang autistik. Ikhsan berulang kali diminta mengundurkan diri dari sekolah formal, karena perilakunya yang tidak bisa diam dan fokus, sehingga mencemaskan wali murid lainnya.

Perjuangan bertahun-tahun hingga Ikhsan menjadi dewasa yang mandiri patut menjadi contoh bagi kita semua, bahwa menggali bakat anak menuntut kejelian orang tua sendiri.


Iksan dan lukisan acrilicnya, sumber: pribadi


Awalnya bu Dyah mendirikan sekolah ABK berkolaborasi dengan temannya, terutama untuk anak-anak autistik. Kira-kira 10 tahun yang lalu, Dyah mendirikan sendiri rumah belajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus, bernama Rumah Belajar Tata (RBT), di Jakarta Timur.

Rumah belajar ini menempati lantai 2 dan 3 di rumah tinggal bu Dyah dan untuk kelancaran proses belajar mengajar peserta didik, memanfaatkan IndiHome Internetnya Indonesia. Paket yang dipilih internet dan layanan cable TV tambah add-on untuk channel Disney+. 

Berhubung bangunan 3 lantai maka dengan 1 decoder perlu ditambah extender ke lantai 2 dan 3 untuk Wi-Fi-nya serta bisa melayani 9 CCTV untuk mengawasi kegiatan belajar-mengajar. Pembelajaran selama pandemi dilakukan dengan metode hybrid, yaitu daring dan luring bisa berlangsung, tentunya dengan protokol kesehatan ketat.


suasana belajar di RBT, sumber: FB RBT


Walaupun pandemi bu Dyah bersama para guru tetap berdedikasi tinggi untuk memberikan pembelajaran melalui manfaat internet #AktivitasTanpaBatas. Sesi sharing secara rutin diadakan oleh RBT dengan melibatkan para orang tua anak autistik dari seluruh wilayah Indonesia. 


Dyah Puspita, SPsi, MA, sharing dengan orang tua penyandang autism, sumber: FB RBT


Bahkan Dyah sekarang membuat channel Youtube di link Dyah Puspita Abd, yang membagikan berbagai tips dan informasi membersamai autistik remaja dan dewasa.


Sharing tips simpel untuk orang tua anak autistik, sumber: Youtube


Kisah Bara

Bara, adalah seorang pemuda cilik penyandang SPD (sensory processing disorder). Anak SPD mempunyai hambatan dalam menyikapi sensor penginderaan tubuhnya. 

Bila selama ini kita mengenal indera ada lima, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, perasa. Ternyata sebetulnya ada tujuh indera, yaitu ditambah dengan vestibular (keseimbangan) dan proprioception (body awareness).


Anak SPD yang Hypersensitif, sumber EZCare Clinik


Anak-anak dengan SPD akan mengalami keterlambatan pada tumbuh-kembangnya. Misalnya mereka yang hyper-sensitive, belum berani main ayunan, main perosotan, atau naik tangga. Tetapi di sisi lain, anak-anak SPD yang hypo-sensitive, sebaliknya tidak punya takut, bisa loncat atau berlarian sulit distop.

Rata-rata anak SPD sulit fokus dan mengalami keterlambatan bicara (speech delay).

Nah, kan bingung untuk mendapatkan pendidikan yang pas bagi anak-anak SPD.

Beruntungnya berkat konsultasi dengan Ibu Dyah Puspita, lagi-lagi melalui manfaat internet, orang tua Bara mendapatkan program pembelajaran yang pas. Program pembelajaran yang khusus dirancang untuk Bara tersebut ditindaklanjuti dengan melibatkan guru yang datang ke rumah.

Mis Nana, ibu guru tersebut dengan telaten melaksanakan program untuk Bara. Dan di usia tujuh tahunnya, mulai belajar membaca dan menulis.


Bara homeschooling, sumber: pribadi


Selama ini Bara memang masih berkomunikasi dengan metode PECS (Picture Exchange Communication System), sebuah metode berkomunikasi melalui bertukar gambar.

Hal ini terpaksa dilakukan karena Bara belum berbicara lancar.

Pembelajaran Bara di bawah bimbingan Mis Nana tersebut selalu direkam dengan video yang dilaporkan ke Ibu Dyah, dengan demikian pembelajaran tetap terpantau dan terarah. Jarak Jakarta-Bandung bukan apa-apalah berkat IndiHome.


Tab___Space Tempat Disabilitas Berkreasi

Baru-baru ini Ibunda Bara, seorang dosen dan ilustrator buku anak, melalui jejaringnya mendapatkan informasi tentang sebuah tempat bernama Tab___Space, di jalan Braga, Bandung.

Tab___Space didirikan oleh Imaniar Rizki, juga seorang dosen yang peduli dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Nah, galeri Tab___Space ini memang dikhususkan bagi penyandang disabilitas. Sekarang ini masih mengkhususkan pada disabilitas intelektual, seperti autistik atau anak-anak seperti Bara.

Awalnya kak Imaniar memang guru menggambar anak-anak disabilitas, kemudian atas permintaan orang tua murid, mengharapkan adanya tempat untuk berekspresi. Antara lain berpameran dan melatih skill para difabel ini. Baru bulan Maret 2022 Tab___Space ini diresmikan berkolaborasi dengan simpatisan lainnya, Rizki R. Safitri dan Nurul Lathifah. Nama Tab___Space mengambil dari tombol 'TAB' pada keyboard laptop/komputer, yang bila kita tekan akan membuat ruang pada layar.

Begitulah makna dari Tab___Space ini, bahwa para difabel harus diberi ruang.


TAB___SPACE, studio untuk disabilitas, sumber: pribadi


Itu sebabnya Bara diantar Ibundanya menyempatkan temu janji dengan kak Iman untuk berkreasi melukis menggunakan media cat air dan kapas.

Hal sangat sederhana ternyata membuat mata Bara berbinar-binar.

Nah, bisa nih, mungkin saja kegiatan berkesenian dan mengasah kreativitas merupakan bakat Bara.



studio Tab___Space, sumber: pribadi



art work yang diprint pada kain jari baju, jaket, ransel, sumber: pribadi



Bara berkreasi di TAB___SPACE, sumber: pribadi



Bara's Artwork @TAB___SPACE


Manfaat Tak Terbatas Internetnya Indonesia

Klasifikasi sekolah luar biasa yang ada mungkin tidak sepenuhnya pas, karena setiap individu mempunyai kemampuan dan potensi masing-masing. Pemerintah Indonesia sendiri memberi tempat untuk pembelajaran melalui sekolah rumah (homeschooling), sekolah alam, atau bentuk lainnya. Bahkan pesantren yang dulu dianggap sekolah informal, sekarang pun sudah disetarakan dengan sekolah negeri atau sekolah swasta.

Nah, kabar baiknya IndiHome meluncurkan beragam paket-paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita.



Berikut pilihan paket-paketnya:

  • Paket IndiHome (Dengan Akses Netflix)
  • Paket IndiHome (Dengan Akses Disney+ Hotstar)
  • Promo Paket IndiHome*
  • Promo Spesial IndiHome
  • Paket Gamer
  • Paket Khusus Pelajar, Pengajar, dan Jurnalis
  • Paket Bebas Tanpa Batas
  • Paket Karyawan, Pensiunan, dan Outsource Telkom Group

Sedangkan produknya kalian bisa memilih internet saja, paket internet dan TV, atau paket internet-TV-telepon rumah (IndiHome paket 3P).

Ada berbagai pilihan paket internet mulai dari kita kecepatan 20 Mbps hingga 100 Mbps dengan harga berlangganan mulai Rp200ribuan hingga Rp900ribuan.


Paket IndiHome, sumber: website IndiHome


Memang ya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui Indonesia Digital Home atau lebih dikenal sebagai IndiHome selalu berinovasi memanjakan konsumennya. Selain internet ada pilihan layanan TV mulai dari Minipack Package, Combo Sport, Dynasty 2, dan paket entertainment lainnya.

Salah satunya adalah dengan meluncurkan aplikasi myIndiHome, tempat kalian bisa dengan mudah mencek pembayaran dan paket-paket yang bisa kalian upgrade dengan mudah dari ponsel. Masih banyak layanan lainnya yaitu berbagai aplikasi film mulai dari Disney+, WeTV, Vidio, Catchplay+, dan lain-lain.

Menariknya bagi kalian yang bekerja secara online, IndiHome menawarkan Cloud Storage mulai dari 16GB, 32 GB, dan 128 GB. Cocok banget kan bagi artis untuk menyimpan karyanya dalam bentuk digital yang biasanya gambar digital bobot filenya sangat besar.


Penutup

Dari tiga kisah di atas tentang disabilitas, semuanya ternyata semakin menguat berjejaring karena adanya internet. 

Berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2019, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 9,7 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 26 juta orang. Walaupun saya belum mendapatkan data yang tepat penyandang disabilitas intelektual seperti Ikhsan atau Bara tersebut, mereka-mereka ini adalah bagian dari keluarga Indonesia. Jumlahnya mungkin ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan.

Meningkatkan potensi para disabilitas selain juga melibatkan orang tua, lingkungan, juga sangat terbantu berkat orang-orang yang care seperti kak Imaniar.

IndiHome merupakan bagian dari lingkungan yang mewadahi potensi siapapun untuk mengembangkan creative & culture melalui internet, termasuk para disabilitas agar mereka lebih mandiri dan percaya diri.

Semoga bermanfaat.


Sumber:

https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/20/22101771/sekolah-berkebutuhan-khusus-ini-6-jenis-slb-yang-harus-kamu-ketahui/

https://indihome.co.id/



Posting Komentar

14 Komentar

Yustrini mengatakan…
Manfaat internet banyak sekali. Para penyandang disabilitas jadi bisa tetap berkreasi tanpa batas sama seperti yang lain. Bahkan bisa lebih keren.
Putu Felisia mengatakan…
Dulu anak saya satu delay speech satunya hiperaktif. Hasilnya saya yang disalahin nggak becus rawat anak. Lumayan sih jadi kebagian kena depresi ekstrem hampir masuk RSJ juga. Hahaha.
Tukang Jalan Jajan mengatakan…
Bagaimana internet membantu banyak orang untuk berkembang dan terus belajar walaupun dengan segala kekurangannya. Semuanya bisa dilakukan dengan indihime, internet lancar dirumah dan semua bisa dari rumah
Ranggi's Travel Story mengatakan…
Indihome dari Telkom membantu masyarakat bisa mengenal Internet. Jaman sekarang penting sekali.akses internet karena banyak onformasi yang bisa kota gali. (Gusti yeni)
YSalma mengatakan…
Internet memudahkan banyak orang mendapatkan informasi secara cepat, menghemat waktu, dan dapat memantau aktivitas pembelajaran dari jarak jauh. Semoga IndiHome dari Telkom terus memberikan pelayanan yang baik.
Lita Lestianti mengatakan…
Bagus ini. Internet sangat bermanfaat banget bagi penyandang disabilitas yang mau belajar luring. Apalagi ada tayangan2 anak2 ysng untuk edukasi para disabilitas
Mita Oktavia mengatakan…
Senang membacanya bahwa dengan akses internet yang memadai semua orang punya kesempatan yg sama untuk berdaya dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Bagus2 yaa karya lukisnya anak2 mbak.
Fenni Bungsu mengatakan…
Apa yang dilakukan Bu Dyah semoga menular juga kepada yang lain, bahwa membantu sesama dan memanfaatkan internet untuk hal yang bermanfaat memberikan dampak positif sehingga makin banyak yang berdaya
Diah Alsa mengatakan…
Ibu Dyah begitu care ya dengan pendidikan para Disabilitas ini, ilmunya benar-benar dibagikan kepada mereka yang memang membutuhkan.
Berkat internet melalui IndiHome semua pun bisa tersampaikan, jarak bukan lagi jadi halangan untuk para orangtua untuk bisa berkonsultasi dan mendapatkan edukasi yang dibutuhkan.
Ainun mengatakan…
Keberadaan internet sekarang ini memang nggak bisa terlepas dari pendidikan anak-anak juga ya.
Bahkan internet juga berperan untuk membantu imajinasi anak untuk terus berkarya, mencari informasi atau sumber berita, bahkan juga bersosialiasi secara maya
Leyla Hana mengatakan…
Keren banget Bu Dyah ini ngasih support untuk orangtua dengan anak difabel. Apalagi dengan dukungan IndiHome ya, jadi makin mudah memberikan edukasi, motivasi, dan inspirasi. Tetap semangat selalu.
Okti Li mengatakan…
Alhamdulillah ya dengan adanya internet penyandang disabilitas pun sekarang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berprestasi. Senang sekarang internet dari IndiHome sudah merambah ke berbagai pelosok daerah
Damar Aisyah mengatakan…
Keren ya, dengan internet kesempatan belajar benar2 tak terbatas. Siapapun bisa belajar dari mana saja, dalam kondisi apapun, dengan media yg sangat beragam. Bahkan siapapun memiliki kesempatan mengakses media belajar yg selama ini mgk terasa mustahil untuk dilakukan. Sekolah jarak jauh merupakan bukti bahwa dengan intenet semua bisa berilmu.
Pasti yang difabel bakalan bahagia dengan pelayanan maksimal dari IndiHome ini
Tidak membedakan pelanggan dan selalu berinovasi untuk berguna lebih luas dengan penyediaan jaringan internet yang lancar